KoRi cartoon

SALAM HANGAT UTK KWN-2 YG MENGUNJUNG KoRi BLOGSPOT. ;-D

KATA-2 BIJAK ISLAMI:"Bolehkah aku memilih hidupku? Bahagia, senang dari kecil hingga dewasa. Tak ada duka nestapa & lara. Tak ada musuh, teka-teki & persoalan. KataMU, itu berarti tak ada warna". KUTIPAN DARI KAHLIL GIBRAN :"Anda mencintai dia bukan karena dia mencintai anda tapi karena anda memberi izin kepada diri anda untuk mencintainya". "Percayalah kepada ibumu, tidak rasa dendam sdikitpun dihati seorang ibu".

KoRi fav

KoRi  fav
LIFE


Cinta. Sejuta cerita tentangnya. Pelajaran tentang cinta membuatku jatuh bangun mengejarnya hingga kumenemukan cinta dalam dirinya. Sebenarnya seech, semakin dikejar cinta itu semakin jauh. Hehehe. Berawal dari perkenalan yg maya di suatu komunitas internet. semula aku tak percaya akan keseriusannya hingga menjelang persiapan pernikahanpun, aku masih belum percaya. Subhannallah, suatu mujizat dariNYA, akhirnya aku dapat merasakan debaran itu.

Sebelum aku bertemu dengan calon misua, banyak cerita dibalik perjalananku mengejar cinta. Semoga ceritaku tdk membosankan.

Semasa sekolah, aku tidak merasakan memiliki seseorang yang istimewa, NB : cowok atau pacar. Di sekolah dasar, aku menyukai teman sekelas. Dia primadona sekolah. Pintar, guanteng dan tajir. Ughh pokoknya dia tuuu sempurna banged di mataku. Sayang dia hanya memandangku sebelah mata. Tapi kalo nggak gitu, aku nggak punya cerita dounk. Hehehe.

Lain cerita, waktu aku duduk dibangku sekolah kejuruan, adik kelas yang satu ektrakulikuler denganku, yang kata teman sebangkuku, “Purwati”, menaruh perhatian padaku. Sebut saja namanya “Purwanto”. Hanya sayang, aku merasa tidak percaya diri untuk mempercayai kata – kata teman sebangkuku. Dan aku pun tidak berpikir untuk berpacaran. Walau tidak ada larangan dari alm. Bapakku. Tapi biar bagaimanapun aku merasa tersanjung juga see waktu tahu Purwanto suka padaku. Meski aku berpura – pura tidak mengetahui apa yang ia rasakan. Ya mungkin dalam hati kecilku pun tak ingin memberi peluang untuk menyakiti hati. Mengambil dari kata pepatah : “Bila kau memutuskan untuk jatuh cinta, maka kau harus siap patah hati”. Kurasa hati ini belum siap untuk sakit hati. Hehehe..

Selepas masa – masa sekolah, aku melanjutkan ke Lembaga pendidikan satu tahun. Disana mayoritas cewek – cewek semua. Disana, aku tidak mengenal seorang cowok walau ada segerombolan cowok – cowok di kelas lain. Aku lebih dominan bergaul dengan para cewek – cewek. Di dalam kelas, teman – temanku kerap sekali hobi berdandan. Berpenampilan layaknya seorang wanita dewasa. Sedangkan aku, hanya berpenampilan ala kadarnya. Natural booo atau cuex ya. ;-). Dan disaat itu, cinta pertamaku muncul ke permukaan. Tiba-tiba teman SD kembali di kehidupanku. Kami pun sempat berkencan. Seperti pemuda – pemudi kebanyakan, kami pun menonton dan makan malam diluar. Kami sempat menjalani pedekate. Tapi itu hanya sebatas itu saja. Hubungan kami tidak berlanjut, secara, kami berhubungan jarak jauh. Aku di Jakarta dan ia di Yogyakarta, mengemban ilmu di perguruan tinggi negri. Roma, adalah cinta pertamaku. Cinta monyet. Dia yang telah merenggut kedamaian hatiku. Meski antara kami tidak ada terucap kata cinta, namun aku merasa dia cinta pertamaku. Komunikasi kami baru sebatas surat – menyurat, secara dulu ponsel belum populer seperti sekarang. Dan masih belum ada “penembakan” antara kami. Dalam surat itu, dia menceritakan kegiatan sehari – harinya pada saat kuliah atau saat magang atau saat dia berkelana mencari objek foto, secara, dia fotografer. Ya saat itu baru amatiran tapi aku yakin sekarang mungkin dia telah lihai memainkan kameranya. Pernah suatu hari saat dia liburan kuliah, dia mampir kerumahku. Sebelum pulang, dia memintaku bergaya dan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana hasil jepretannya. Karena semenjak hari itu, kami “lost contact”. Terakhir aku tahu kabarnya dia telah menikah dengan seorang dosen di Bandung. Dan dikaruniakan 2 orang anak. Saat aku mengetahui berita itu, hatiku sedih tapi juga bahagia walau harapanku untuk merajut kasih dengannya pupus sudah. tak jarang tiap malam aku selalu menangisinya. Mengenangnya. Tapi jika gak begitu, lagi-lagi, aku gak punya cerita dounk.

Setelah selesai menimba ilmu, aku mulai mencari kerja. Aku mulai memasukkan surat lamaran ke berbagai perusahaan. Dan hasilnya belum memuaskan sampai akhirnya aku bertemu dengan teman semasa sekolah, “Siti”. Dia menawarkanku pekerjaan di satu lantai dengannya, Sales Promotion Girl atau yang lebih tenarnya SPG. Pada saat itu aku tidak memikirkan berapa gajinya. Yang aku pikirkan, “aku harus kerja”. Dan seperti kebanyakan anak, akupun berdiskusi dengan Alm. bapak. Alhamdulillah beliau selalu mendukungku, selama itu baik. Singkat cerita, aku mulai bekerja dan itu hanya bertahan satu tahun. Pasalnya kondisi badanku ngdrop, karena aku tidak menjaga pola makan dan lagi mungkin aku kaget dengan suasana kerjanya, yang NB, aku musti lembur satu minggu tanpa dapat libur. Aku kena typus. Dan mau tidak mau aku dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu. Selama dua minggu Alm bapakku tidak terlalu sering menjengukku. Hanya sesekali beliau menjengukku. Karena beliau sibuk kerja dan sudah terlalu capek. Tapi aku tahu kalau beliau sangat perhatian dengan perkembangan kesehatanku. Beliau selalu menanyakan kondisiku pada ibuku, secara ibuku laporan ke aku lha. Hehehe. Dan yang membuatku senang, waktu dokter bilang aku sudah diperbolehkan pulang. Pertama kali yang aku lakukan menelpon rumah. Dan Alm bapak, adik cowok dan ibu menjemputku. Dan aku melihat senyuman di wajah Alm bapakku. Ughhh entah kenapa, aku selalu suka melihat senyuman itu. Aku melihat ketulusan di matanya. Dan aku masih tetap merasakan kasih sayang dan ketulusan itu hingga kini walau beliau telah tiada. Oh iya, yang lebih membuatku semakin menyayangi beliau saat pertama kali aku kencan dengan teman sekelasku itu, “Roma”. Kentara sekali beliau menunjukkan perhatiannya padaku. Sebelum aku beranjak pergi kencan, beliau memberiku serentetan wewejang. Uang saku lha. Nggak boleh pulang lewat dari jam 9 malam lha. Dan aku hanya tersenyum menanggapi celotehan beliau. Begitu pula teman kencanku.

Ceritanya bersambung dweh. Lagi buntu nweh. :-D