Hampir 3 jam kami ngobrol, bukan tanpa arah namun lebih tepatnya saling membuka diri tanpa ada ke"jaim"an. Ya mungkin ini yg disebut hub secara dewasa kale yaa. Dan akhirnya aku bisa merasakan kenyamanan saat berdekatan dg seorang laki-laki. Dan kahirnya doi mengantarku kembali kerumah. Awalnya doi berencana bertemu dg ibuku & meminangku tapi ternyata ibu sedang gk dirumah. Mungkin Tuhan belum mengizinkan. Doi hanya bertemu dg ade-adeku.
Dimalam hari, doi mengirim sms "Sayang gk bisa "OL". Terwajah tersenyum ku membalasnya "Yaudh krmhku ja". Kukira doi gk mau ternyata responnya diluar dugaanku. Hanya butuh 1/2 jam, doi sampai dirumahku. Doi melarikan diri dari kongkow teman-temannya. Dan hari itu adl malam minggu pertamaku dg doi yg sekarang menjadi tunanganku. Ya walau belum bertemu dg ibuku, baru sebatas tunangan antara kami berdua. Ponakanku terkejut dg berita itu, "Ich auntie jahad. Ko tunangan gk undang-undang ak. Ughh."
Dan tengah malam pun tiba. Doi diharuskan pulang kerumah temannya. Tak kuduga, doi berjalan sepanjang 500mtr kale. Hehehe. Tapi hatinya senang karena pertemuan ini adlh awal rencana masa depan kami. Sesampainya doi dirumah teman, "Sayang, cuape sekali. Aku jalan tau. Bru dpt angkot di jalan bsr". Aku tersimpul malu, "Owh. Mav sayang". "Sayang, tmm2 ku pd marah krn ak pergi diem2. Skr mrka lg ngejek in ak". Hahaha. Aku merasa diistimewakan olehnya. Doi rela menemuiku walau sedang kongkow dg teman-temannya.
Keesokan harinya, doi kembali ke kotanya. Sebelum meninggalkan Jakarta, doi menyempatkan diri untuk menelponku. Tak banyak yg kami bicarakan, hanya obrolan ringan. Dan malamnya setelah sampai dirumahnya, doi menelponku kembali. Dan itu lumayan lama. Hingga akhirnya doi tertidur. Kumatikan telepon setelah aku yakin doi udah tidur. Dan akupun tertidur juga.
Tak terasa minggu berganti bulan. Hubungan kami kian erat, walau hanya sebatas hubungan via telepon. Dan kami menyadari bahwa hub ini harus dilandasi kejujuran & kepercayaan, bila kami ingin mewujudkan impian masa depan kami.
Disuatu malam, doi menelponku, hanya beberapa saat kemudian doi menyerahkan hp nya pada ibunya. Asli grogi boo. Secara aku berbicara dg calon ibu mertua. Hehehe. "Assalammua'alaikum bu. Gimana kabar ibu?", ujarku. "Wa'alaikum salam. Kabar baik. Kapan neng mau kerumah," tanya calon ibu mertua. "Ya bu, nanti kalo akang datang ke Jakarta & jemput aku," jawabku. "Yaudah, mau ngomong lagi dg akang?", tanya calon ibu mertuaku. "Ia bu. Makasih", sahutku. Huuuuuffffhhh. Ada sedikit kelegaan saat mendengar suara calon ibu mertua. Aura suaranya ramah dan seolah menerima kehadiranku. Keesokan harinya, doi bilang "Tempo hari ibu bilang, rencana kita bulan ke-4. Jadi di bulan ke-2, kita bulak-balik ja. Aku datang kerumahmu ketemu ibu dan kakak-kakakmu. Dan kamu datang kesini, ketemu ibu dan adikku." Aku terkejut mendengar penjelasannya, "Gak jadi akhir taon ini ya? Mangnya akang cerita apa ke ibu?". "Aku gk crita apa-apa. Ibu langsung ngomong gitu ja ko. Dan lagian sayang taon ini tinggal 1 bulan lho. Lagian 2 bulan ke depan, aku sibuk. Nanti bulan awal taon baru, baru ada waktu",ujarnya. Aku terima keputusannya walau sedikit terbersit kekecewaan. Aku pikir, mungkin itu jalan yg terbaik untuk rencana masa depan kami. Aku dan doi tak ingin gegabah untuk perencanaan masa depan yg hanya ingin dilakukan sekali dlm hidup.
Dan dilain kesempatan, akang juga menyodorkan hpnya ke adik nya. "Assalammua'laikum", ujarnya. "Wa'alaikum salam," jawabku. "Ini siapa?", tanya adiknya. "Kori", jawabku. Ughhh, lagi-lagi aku grogi. "Teteh belum tidur?", tanyanya. "Belum nweh. Belum ngantuk. Neng juga belum tidur?", tanyaku deg perasaan grogi. "Lagi kebanjiran orderan nweh. Coba rumah teteh deket. Bisa minta tolong," ujarnya. "Mangnya lagi bikin apa neng?", tanyaku lagi. "Lagi bikin aksesoris", jawabnya.
Hari-hari terasa berat. Kami saling memendam kerinduan karena sikon yg berjauhan. "Setiap titik peluh yg ranum disekujur tubuhku adlh rindu padamu & mlm bisikan mimpi indah ttg kita. Sayang love u mch. Bangunin akang 8 pagi ya muuaahh".
Dan disetiap hubungan ada kemungkinan terjadi pertengkaran. Begitu juga kami. Mungkin karena kami berjauhan dan perasaan kangen menyelimuti hati. "Maaf mungkin saatnya memang ta tpat, tpi ak bner-bner rindu kmu sayang. Lov u muaaachh".
Dan lagi, doi sedang sibuk-sibuknya. Banyak sekali pekerjaan yg butuh perhatiannya. Meski begitu atas permintaanku, doi masih menyempatkan diri untuk memperhatiakanku, walau sebentar. Yg penting aku bisa mendengarkan suara dlm sehari. Dan itu sedikitnya dapat mengobati rasa kangenku padanya. Tapi ternyata kerinduan itu kian mengelembung. Hehehe.
Huuufffhhhhh. Udh dl ya. Waktunya istirahat sambil menunggu pujaan hati menelpon.




