KoRi cartoon

SALAM HANGAT UTK KWN-2 YG MENGUNJUNG KoRi BLOGSPOT. ;-D

KATA-2 BIJAK ISLAMI:"Bolehkah aku memilih hidupku? Bahagia, senang dari kecil hingga dewasa. Tak ada duka nestapa & lara. Tak ada musuh, teka-teki & persoalan. KataMU, itu berarti tak ada warna". KUTIPAN DARI KAHLIL GIBRAN :"Anda mencintai dia bukan karena dia mencintai anda tapi karena anda memberi izin kepada diri anda untuk mencintainya". "Percayalah kepada ibumu, tidak rasa dendam sdikitpun dihati seorang ibu".

KoRi fav

KoRi  fav
LIFE

MENGEJAR CINTA BAG-2

Critanya nyambung lagi nweh. :-D .

Sampai akhirnya aku bisa melupakannya karena aku mulai berusaha mencari pekerjaan baru. Dan tahu nggak!! Disana aku bertemu dengan seseorang yang baik hati dan perhatian. Sebut saja namanya “Anto”. Usianya tak jauh terpaut denganku. Hanya beda bulan. Dan kala itu aku belum mendapatkan pekerjaan baru. Dengan bantuan dia dan kakaknya, akhirnya aku dapat kerja kembali. Di gedung yang sama. Di lantai yang sama saat pertama kali aku bekerja. Hanya beda counter. Aku bekerja di perusahaan sepasang suami istri yang berdomisili Bandung. Mereka memproduksi lampu – lampu kayu dari limbahan. Karya – karya yang spektakuler. Aku kagum dengan hasil karya bossku. Selama dua tahun, aku bekerja pada mereka. Tahun pertama, aku ditempatkan di sebuah mall di kawasan Pondok indah, dengan jam kerja yang full, dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Buatku jam kerja tak jadi masalah. Yang jadi masalahnya, teman rekan kerjaku. Sebut saja namanya, “Lek”. Dari pertama aku berkenalan dengannya, feelingku mengatakan, “kayaknya aku nggak bakal klop dengan dia deh”. Pasalnya dia selalu berusaha menjatuhkan imageku di depan teman – temanku yang lain. Kami bekerja tim, 6 orang. Dan teman kerjaku cowok semua. Hanya aku saja yang beda jenis kelamin. Kukira bekerja dengan lawan jenis akan mengasyikkan. Ternyata!!! Tergantung personalnya juga seeh. Sialnya aku bekerja dengan seseorang yang tidak suka persaingan sehat.

Awalnya aku merasa tidak betah bekerja dengan seseorang yang menikam dari belakang. Namun berkat nasehat kedua orang tuaku, aku tetap bertahan. Dan akhirnya aku terbebaskan dari suasana kerja yang tidak mengenakkan itu. Di bulan ke enam, Boss memindahkanku ke Blok M. masih di mall juga. Dan aku masih mendapat rekan kerja cowok lagi. Sebut saja namanya “Hari”. Kali ini system kerjanya shift – shiftan. Perjanjian dari awal, kami bisa mengatur jadwal kerja sesuai kebutuhan. Bisa seminggu sekali masuk pagi. Dan minggu berikutnya masuk siang. Atau bisa juga dua hari masuk pagi. Dihari berikutnya masuk siang. Yach cincai lha. Hehehe. Selama suasana kerjanya sehat, buatku tak jadi soal. Dan liburnya pun bisa request. Oia sampai lupa. Mengejar cinta. Hubunganku dengan Anton berjalan mulus. Kami semakin sering ketemu. Kami sering meluangkan waktu untuk makan siang bareng di kantin. Dan menjelang setahun aku bekerja disana, hatiku luluh lantah kembali. Anto ternyata hanya menganggapku sahabatnya. Teman berbagi suka dan duka. Ternyata dia menyukai seorang gadis, yang kebetulan masih satu lantai dengan kami. Kesan pertama melihat gadis itu, aku tidak menyukainya. Bukan karena dia merebut Anto dariku tapi lebih merasa dia bukan cewek yang cocok buat sosok Anto. Tapi aku bukan Tuhan yang menentukan jalan kehidupan seseorang. Jadi teringat seorang teman yang mengingatkanku dengan kata - kata yg menyentuh hati. "jika kamu mendengki orang lain karena kamu mengira bahwa yang dimilikinya adalah bagian kamu, maka kamu adalah orang jahil. Sebab, apa yang telah ditentukan untuk kamu itu tidak akan lepas ke tangan orang lain. Melainkan pasti akan kamu dapati". Secara perlahan dan pasti, Anto menjalin kasih dengannya. Dan semakin hari, hubungan kami semakin menjauh. Aku kehilangan seseorang kembali. Hatiku menangis tapi berkat sahabat – sahabatku yang selalu menghibur, aku kembali ceria. Oo betapa menyenangkan memiliki sahabat – sahabat seperti Tince, Linut, Cimonk. Mereka tak pernah bosan menemani dan menasehatiku.

Sayang kami harus berpisah. Salah seorang sahabatku hendak pergi ke luar negeri, Jepang. Sebuah perjalanan yang telah ia tunggu – tunggu. Disana ia menikah dengan sanak saudara jauhnya. Dengan perayaan yang sangat sederhana, sahabatku akhirnya menikah. Alhamdulillah meskipun sahabatku jauh dariku, kami selalu komunikasi via handphone, email dan chatting. Itulah pertama kali aku mengenal dunia maya. Tahun 2006, keponakan membuatkanku sebuah akun email sekaligus chatting. Dan disana pula aku mengenal cinta berikutnya. Dari sebuah email nyasar, aku mengenal seseorang. Sebut saja namanya “Rahmat”. Pada awalnya, aku tidak menggubris inbox darinya. Penundaan demi penundaan balasan email aku lakukan. Jadi salah bila ada orang yang menganggapku mengejar – ngejar dia. Sejak awal aku membaca inboxnya, hati tidak percaya kalau ia seseorang yang mampu membuka hatiku. Tapi tiba – tiba ada perasaan penasaran dalam hati. Dan akhirnya aku memutuskan membalas emailnya. Isinya singkat. Hanya menanyakan darimana ia tau id emailku. Ternyata itu merupakan penderitaan yang tak pernah kuduga. Karena email itu, jalan hidupku berubah. Yang dulu aku seorang yang pendiam dan pemalu langsung berbalik 180’. Ternyata dia suami orang yang NB sedang bermasalah dengan istrinya. Mereka hidup terpisah kota dengan empat orang anak. Bodohnya aku baru mengetahui saat aku mulai menyukainya. Aku telah menaruh harapan padanya. Tapi aku terselamatkan oleh teguran alm bapakku. “Ndu, apa nggak ada cowok lain. Dia plin – plan. Nggak cocok dengan kamu. Yach ayah yakin kamu bisa masuk dalam keluarganya tapi ayah tidak yakin apa dia bisa membahagiakan kamu”. Itu suatu petunjuk dari Sang Pencinta. Sayangnya aku sempat mengabaikan petunjuk itu. Aku tetap berhubungan dengannya hingga dua tahun. Tahun pertama kami resmi berpacaran (padahal aku tidak suka dengan kontek pacaran). Tahun kedua, kami backstreet. Dan di tahun itu segalanya berubah. Aku jadi uring – uringan bila tak mendapat kabar darinya. Aku marah, kecewa dengan sikapnya yang tak memperdulikan perasaanku. Secara hubungan kami sudah lewat dari batas normal. Eit jangan salah. Aku tidak memberikan mahkotaku kepadanya. Hanya menurutku, apa yang pernah kami lakukan melebihi batas norma aja. Kissing, semua udah merasakannya kan?! ;-D. Dan lebih parahnya, aku sudah berani berbohong hanya untuk bisa bertemu dengannya. Tapi buatku itu sungguh gila. Dan akhirnya aku harus kecewa kembali.

Mungkin memang tidak ada kata putus diantara kami. Tapi jelas sekali hubungan kami sudah tidak sehat. Segala cara yang tidak mungkin aku bisa lakukan dulu, dengannya, aku lakukan. Dan imbalannya aku harus menelan penghinaan. Aku disebut – sebut perebut suami orang. Pihak ketiga dalam rumahtangga orang. Itu pengalaman yang sangat hina. Dan lebih hinanya, aku tidak melakukan perlawanan terhadap perlakukannya dan istrinya beserta ipar – iparnya. Kalau aku flashback kejadian itu, aku sungguh bodoh dan tolol!!! Jelas – jelas sahabat – sahabat telah memperingatiku agar tidak terlalu melibatkan diri dalam prahara itu. Tapi saat itu hatiku tengah buta. Hatiku dibutakan oleh janji – janji palsunya. Dia bilang akan menikahiku sebagai istri kedua. Dan untungnya kedua orangtuaku tidak mengetahui rencana gilanya. Hufhhh. Kukira aku dapat melepasnya setelah mengetahui kegombalannya. Tapi aku justru terobsesi olehnya. Aku semakin tak mampu melepaskan diri dari kegombalannya. Oh iya, dia cowok pertamaku secara resmi (tapi sekarang, kelaut aja dweh. Hehehe). Suer dweh, kalau ingat masa – masa itu, malu sendiri. Tapi semua ada hikmahnya. Aku mengambil pelajaran yang positif aja dweh. Akhirnya aku bisa merasakan hubungan beda jenis yang sesungguhnya. Hatiku berdebar –debar saat di dekatnya. Hehehe.

Sampai akhirnya merasa cape sendiri. Aku menyerah pada keadaan karena semakin melawan arus cinta gombalnya semakin batin tersiksa. Aku melepas semua perasaan itu dengan berharap suatu hari aku akan mendapatkan pengganti yang Tuhan siapkan untuk hidupku. Amin. Semoga. Dan mulailah untuk membuka hati kembali. Seorang teman mengenalkanku pada seorang cowok, yang NB juga suami orang. Gilaaaaaa !!! Teman macam apa itu?! Menjerumuskan temannya. Tapi keadaan berbalik padaku. Dia justru menyalahkanku. “Kenapa lo nggak mau gitu ja?!” Helloooo. Gue piker elo seorang teman yang baik, secara, elo itu istri eh mantan seorang istri. Lo nggak takut ya kalo hukum karma menimpa keluarga lo”. Dia malah menjatuhkanku. Mengeluarkan kata – kata yang tak sepatutnya terlontar dari mulut seorang ibu. Dia menghinaku habis – habisan. Dan semua perkataannya kuterima. Aku hanya berdoa, Ya Allah kuatkan aku. Mungkin ini cobaan buatku melangkah lebih dewasa.

Udah dulu ach. Btw, crita ini tidak bermaksud merendahkan seseorang. Ini hanya bagian dari penggal cerita di dunia yang beragam. Mohon maaf bila ada yang tersakiti. & aku selalu menjaga privasi seseorang dengan tidak menyebutkan identitasnya. Terimakasih. Lain waktu disambung lagi. ;-D

0 Comments:

Post a Comment